Langsung ke konten utama

Temukan Bahagia dalam Syukurmu

“Enak ya jadi dia”

“Seandainya aku jadi dia...”


ada segelintir orang yang pernah melontarkan kalimat semacam itu setelah melihat seseorang yang penuh kenikmatan dalam hidupnya dengan segala hal yang banyak orang impikan. Hey, kamu pernah berpikir tidak, apa saja yang telah dilewati oleh seseorang tsb –sebut saja si A sebelum sampai ke titik saat ini, titik yang membuatmu iri setengah mati hingga lupa untuk mensyukuri hidupmu sendiri.
Ah, santai saja. Mungkin saja dia berkata seperti itu untuk menjadikannya sebuah motivasi kan?
Ya. Bisa saja seperti itu. Untuk dijadikan motivasi sangat bagus. Tapi aku melihat, banyak sekali remaja-remaja sekarang yang hanya menjadikannya sebagai objek ke-iri-an mereka. Bukan motivasi. Bukankah jika mereka hendaknya menjadikan si A sebagai motivasi maka mereka akan mulai berpacu secepat mungkin? Tapi nyatanya kebanyakan orang hanya terpaku dan lupa terpacu.

Tapi..
Pernahkah kita berpikir apa saja yang orang tsb telah lalui?
Aku pernah mendengar sebuah kutipan yang bahkan sampai sekarang tidak akan aku lupa:

“don’t envy someone on blessing, cause you don’t know what god took from him”

Sudah dapat point yang ingin aku bicarakan ini?
Ya, jangan pernah iri.
Si A mendapatkannya karena memang pantas untuk itu.

Di masa lalu, mungkin saja dia pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Mungkin saja dia tidak memiliki sesuatu yang kamu miliki—padahal sesuatu itu adalah hal yang paling ia dambakan, sama halnya denganmu yang begitu mendambakan hal yang ia miliki.

Mari kita sejenak berpikir..

Mengapa hanya sibuk melihat-lihat rumput tetangga yang lebih hijau? 

Jangan habiskan waktumu, dan segeralah merenung sudah seberapa banyak nikmat yang Allah berikan tapi selalu lupa untuk kita syukuri?
Maka, mulai detik ini marilah kita belajar untuk menjadi pribadi yang lebih pandai bersyukur dan pandai memahami bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup tentunya punya hikmahnya masing-masing.



Ditulis sebagai nasihat untuk diri sendiri dan semoga bisa bermanfaat untuk semua yang membaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minggu

hari minggu ga ada kerjaan.. sekarang sih pembukaan AKSI. temen-temen semua datang.. saya ga ikutan. lebih senang dirumah rasanya. tapi penasaran juga sih,gimana pembukaan AKSI tahun ini. kira-kira bagusan mana,yang tahun lalu atau yang sekarang? haha.. :D sebenarnya pengen ikutan ngeliat juga, tapi lagi malas. so, mendingan dirumah,duduk manis sambil download video. kali ini saya bebas soalnya kakak lagi di jalan2 ke LN . jadi, yang nguasain kamarnya itu saya.. ahahha.. minggu kebebasan. wkwkkwkw tapi minggu ini,pikiran saya agak terbebani dengan UAS yang semakin mendekat. persiapan saya rasanya belum matang. so, sekarang ga boleh online terus. ingat UAS dan UN  makin mendekat.. jangan sampai nilainya hancur gara-gara online terus.. :D meski godaan untuk online itu levelnya tinggi banget, but i shouldn't keep away from facebook,twitter,etc. yeah.. i must study hard for UAS and UN.. keep fighting Aul..

Jurusan X

Tidak terasa sudah hampir tiba waktunya meninggalkan SMA 2 Majene. Yap, bagi saya rasanya baru kemarin kami menjalani Masa Orientasi Siswa. Rasanya baru kemarin saya berkenalan dengan teman-teman MIA 5. Rasanya... Ya.. rasanya begitu singkat. Kini tibalah dipenghujung masa SMA ini. Tinggal 67 hari lagi kami akan menghadapi Ujian Nasional yang sudah menjadi budaya di Indonesia. Kalau ditanya soal 'sudah siapkah kamu menghadapi UN?', saya berharap bisa menjawab dengan 'ya, saya sangat siap' tapi nyatanya berkebalikan.  Baiklah harusnya saya sadar untuk tidak membuang-buang waktu, segera offline dan mematikan laptop kemudian belajar untuk UN. Hanya saja, saya sedang tidak ingin melakukan apa-apa selain mengisi blog yang usang ini dengan tulisan murahan saya. (wkwk) Oh ya, setelah lulus dari SMA saya berencana untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan. Saya begitu berharap untuk bisa memasuki PTN lewat jalur SNMPTN meskipun saya sebenarnya juga sudah me...

Melepaskan atau Berjuang

Terkadang ada rasa lelah yang hinggap, ada juga rasa bosan yang sering bermuara menuju kepasrahan. Tapi meski begitu keadaan saat ini sudah banyak memberiku pengalaman dan pelajaran. Tak jarang pula ia membuatku lebih kuat dan memaksaku berpikir lebih dewasa. Kadang aku berpikir, apakah aku memang sanggup untuk bertahan disini? mampukah aku untuk terus berjuang sampai 4 tahun ke depan? Namun lagi-lagi seperti ada yang membisikiku bahwa dimanapun kamu, perjuangan itu harus tetap ada dan ini hanyalah sebuah awal. Sebuah awal dari gambaran kecil kehidupan dunia yang sebenarnya. Maka tak bijak rasanya untuk memutuskan menyerah begitu saja, padahal aku belum benar-benar berjuang.  Mengutip dari tulisan Tia Setiawati, "Ketika kamu hendak melepaskan sebelum berjuang, ingat apa yang kamu genggam sekarang pernah setiap saat kamu minta pada Tuhan". Ya, bagaimana bisa aku tidak mensyukuri ketika Allah telah mengabulkan permintaanku?  Kemudian aku tersadar bahwa aku h...